sepasang sepatu

panah dan busur

tertata rapi

tersusun dalam memori

merapikan baju

memasang tali pengaman

 

menutup mata

menghembuskan napas 

memikirkan kembali ketetapan tujuan

 

Tuhan aku akan maju dan tak akan mundur

aku sudah mengambil keputusan

Tuhan bantulah aku

hidup dan matiku milik Engkau wahai Sang Penguasa

 

lalu dia pergi

dalam alunan hati sang jiwa

demi apa yang diyakininya

apa yang dia percaya sebagai kebenaran

sekalipun kebenaran itu sangat absurb

tak dia mengerti sama sekali

 

seorang jiwa yang menghilang

dengan hati yang membaja

 

akankah dia kembali

wahai pemanah keyakinan

 

sepasang mata mengintip

menatap tubuh yang semakin menghilang

 

menangisi bekas sepatunya

 

(abad 14 SM)

 

 

Iklan