Mengisi liburan lebaran 1435 H, kami (Keponakan dan saya) pergi ke Dieng dari Pemalang. Titik berangkat kami ambil dari jalur Pekalongan. Melalui Banjardawa-Jebet-Gondang-Sikuang-Karangtalok-Bodeh-Kesesi-Kajen-Linggo Asri-Paninggaran- Kali Bening-Wanayasa-Batur-Dieng.

Jalan dari Banjardawa ke Kesesi lumayan kondisinya, dengan beberapa jalur yang rusak. Sedangkan mulai Linggo Asri ke Dieng penuh liku-liku dengan belokan yang menanjak dan menurun sampai membuat kaki gemetar apalagi ditambah dengan beberapa akses jalan yang rusak parah. Perasaan gemetar tidak bisa hilang begitu saja padahal saya hanya membonceng keponakan yang super kendel dan hebat nyetir motornya (padahal perempuan) .

Sedangkan jalan pulang dari Dieng ke Pemalang kami mengambil arah selatan sedikit memutar untuk kembali, kami tidak sanggup lagi jika harus pulang melalui Linggo Asri Paninggaran yang penuh liku dan tanjakan. Start dari penginapan (Home stay Dieng Pass) kami ambil jalur Wonosobo – Banjarnegara-Burbalingga- Bobotsari-Belik-Pemalang. Jalur ini lebih datar dan lebih manusiawi (ga buat gemeter kaki ) dengan kondisi yang lebih bagus dibanding lewat Linggo Asri.

Saya sempat searching beberapa tempat penginapan, akhirnya menginap di Dieng Pass homestay –musim liburan penginapan di Dieng cepat penuh dan harganyanya melambung naik. Standar yang biasanya 200 rban menjadi 250rban. Bahkan makanan pun naik harganya (berkah lebaran untuk pedagang kali yaa…hehehehe). Pastikan untuk memesan penginapan terlebih dahulu kalau musim liburan.

Udara di Dieng sangat dingin, dari handphone terukur 17 derajat dari dalam kamar hotel, mungkin akan lebih dingin jika diluar. Sesampainya di dieng kami hampir setiap malam tidak keluar kamar karena sangat dinginnya.

Tadinya rencananya wisata kami 4 hari di Dieng namun ternyata 2 hari saja cukup untuk mengelilingi objek wisata di Dieng. Ada beberapa objek wisata yang tidak kami kunjungin karena jalan yang rusak dan kendaraan kami tidak memmungkinkan untuk menuju lokasi tersebut (sayang sekali L). Kalau pakai motor janganlah bawa motor matic karena kondisi jalan di Dieng yang sangat menanjak.

Berikut catatan perjalanan kami :    

Hari ke 1 — kami berangkat dari Pemalang Ke Dieng. Waktu perjalanan hampir 6,5 jam karena diselingi oleh istirahat dan perasaan gemetar karena jalan yang berliku liku.

Hari ke 2 —- start jam 8 pagi kami keliling objek wisata sbb

Telaga warna

Terkecoh untuk membeli karcis terusan (red edisi lebaran-@18.000) di jalan yang searah dengan pintu masuk Telaga Warna, ternyata bukan karcis masuk ke Telaga Warna tetapi ke objek lain, ya sudah lah sudah dibeli, tetap bisa digunakan di objek lain (Candi Arjuna, Kawah Sikidang dan Dieng Teater), Akhirnya kami beli karcis lagi seharga @7500.

Telaga warna kondisi air permukaan danaunya berwarna hijau, sejuk dan asri. Saat kami menyusuri jalan setapak ternyata objek telaga warna menyambung dengan objek telaga pengilon dan kumpulan goa goa ( Goa Jaran, Goa Pengantin, Goa Semar, Goa Sumur). Biasanya Goa Goa ini dijadikan tempat pertapaan oleh karena itu pintu masuk goa dikunci dan pengunjung hanya bisa melongok dari luar.

Sebenarnya karcis Telaga warna bisa buat banyak objek wisata, tapi sayang jalan yang menuju telaga pengilon becek dan rusak sehingga kami memutuskan tidak kesana.

Jika jeli ternyata dari telaga warna ada jalan menanjak(dekat toilet) melewati hutan kecil kita bisa langsung ke Dieng Plateu Teater. Wah bisa hemat ga perlu beli tiket neh

Kawah Sikidang

Yang paling menarik dari objek wisata ini adalah adanya penjual yang berjualan makanan tradisional dan sayuran di area akses masuk ke kawah. Apalagi yang jual batu belerang –mantap—belerangnya berwarna hijau tua yang sudah mengkristal waahhh—sangat-sangat tergodaa

Candi Arjuna

Candi arjuna terletak berhadapan dengan museum Kailasa, dan 1 komplek dengan candi Gatotkaca, Srikandi, dan candi candi lainnya. Komplek candi candi ini menyambung dengan dengan Telaga Balekambang. Ketika kami kesana suasana sungguh sangat tidak menyenangkan karena di komplek candi ada pasar tumpah dengan hiburan komedi putar yang sangat mengganggu suaranya.

Sumur Jalatundra

Ada suatu yang unik di sini dengan adanya banyak pedagang yang menjual batu di gardu pandang ke sumur —seribu dua-seribu dua—ayok siapa yang bisa melempar melewati sumur dan mengenai dinding sumur seberang akan terkabul impiannya—-J). Menurut legenda sumur ini tembus ke laut Pantai selatan

Kawah Sileri

Pemandangan seperti danau yang beruap panas ditengah areal kebon kentang sangat mempesona. Kita dapat mendekati bibir kawah jika tahan terhadap bau gas belerang yang menyengat

Telaga Merdada

Telada yang tenang ditengah areal kebon kentang, ada beberapa kapal motor yang bisa mengajak kita berkeliling danau.

 

Hari Ke 3

Puncak Gunung Sikunir dan Telaga Cebong

Hal paling indah kami rasakan adalah ketika kami sampai di atas puncak sikunir dan melihat sinar matahari pecah dari atas bukit—Amazing— dengan perjalanan menanjak menuju bukit di mulai dari jam 4 pagi bersama ribuan orang menyaksikan matahari merekah. Turun dari puncak sikunir kita bisa melihat telaga cebong. Banyak orang yang ternyata mendirikan tenda di sebelah telaga –benar benar backpacker sejati. Diperlukan semangat yang luarbiasa dan tenaga yang kuat untuk dapat mendaki puncak sikunir. Dan ternyata ada beberapa spot dipuncak sikunir untuk melihat sunrise.

Yang tidak kami tahu dan tidak dapat informasi sebelumnya di internet ternyata desa sembung tempat Bukit Sikunir, Tegala Cebong dan Curug Sikarim merupakan desa tertinggi di jawa. Banyak sekali homestay berada di desa ini untuk memasuki kawasan ini kita harus membayar karcis masuk Rp 5000.

Curug Sikarim

Mumpung masih di Desa Sembungan kami memutuskan jalan kaki ke Curug Sikarim, karena jalanan rusak dan kendaraan kami tidak bisa melewatinya. Tapi kami sungguh kecewa karena kami tidak sampai ke Curug dikarena jarak yang jauh dan jalan yang sangat sepi.

Luk Bima Lukar

Situs kuno yang merupakan tuk air, sampai sekarang masih digunakan warga untuk keperluan sehari hari.

Hari ke 4

Kami pulang ke Pemalang

Selama di Dieng tidak ketinggalan kami wisata kuliner, mulai dari opak khas Dieng, Carica, Mie Ongklok, keripik jamur, tempek kemul, kentang goring yang makyus, samapai purwaceng. Yang paling berkesan adalah purwaceng — minuman ini bener sangat enak terutama purwaceng susu nya mantap sekaligus membuat hawa hangat seperti jahe.

Tidak ketinggalan kami membeli oleh oleh untuk kaos banyak sekali yang berjual kaos I love Dieng, sepanjang jalan kita bisa menemukan beberapa Distro dengan kualitas yang baik ataupun kaos kualitas biasa yang dijualbelikan. Di Homestay dieng pass tempat kami tinggal juga menjual kaos dan souvenir lainnyaa. Harganya bervariasi mulai 20 ribuan sampai 85 ribuan.

Biaya dalam perjalanan :

Penginapan 3 hari x 250.000 = 750.000

Tiket –tiket

Telaga warna = 7.500

Tiket terusan Kawah Sikadang Canding Arjuna Dieng Teater =18.000

Sumur Jalatundra = 5.000

Telaga Merdada = 5.000

Kawah Sileri = 5.000

Desa Sembungan = 5.000

Parkir parker 20 x 2000 = 40.000

 

 

Iklan